Home >> figure >> lifestyle >> music >> DR Bombay dan Eurodance-nya

DR Bombay dan Eurodance-nya


Jauh sebelum ada festival musik elektronik semacam DWP di Indonesia, Ultra di Singapur/Bali atau Tommorowland di Eropa, musik-musik elektronik sebenernya udah eksis dari kapan tau. Bahkan mereka udah punya event rutin berupa festival yang jalan dari tahun 1950an. Di jaman dimana kita aja mungkin belum masuk rencana produksi itu, festival musik elektronik (so called Rave Party) belum diadakan di outdoor kayak sekarang, melainkan di dalam ruangan - biasanya di klub malam yang kalo di kita disebut tempat dugem.

Seiring dengan perkembangannya, musik elektonik - yang sekarang biasa disebut EDM mengalami berbagai metamorfosis. Dari mulai packaging, komposisi, sampe target audiences-nya. Namun musik ini nggak punah, cuma bertransformasi sama eranya sekarang, dimana sekarang notabene lebih digital-oriented.

Menurut data Lowtone, 49% dari keseluruhan penikmat EDM adalah perempuan. Terutama mereka yang biasanya tergila-gila sama DJ macam Martin Garrix, Calvin Harris, Alan Walker dan lain-lain yang sebenernya mereka jauh lebih ngepop ketimbang ngedance. Ya memang begitulah yang namanya industri.. siapa yang bisa generate more profit, maka dia yang akan terus bertengger sampai ada yang menggantikannya..

Masih menurut data yang sama, jumlah tiket festival musik EDM tiap tahunnya terjual sampai 160 juta lembar. Bayangin kalo satu tiketnya harganya 800 ribu, berarti tiap tahun ada sirkulasi duit sebanyak Rp. 128,000,000,000,000‬ (seratus dua puluh delapan... apa tuh? milyar apa triliun?!) Mayan lah ya..?! Kalo di sini mungkin bisa buat nambahin bayar utang negara!
Wajar sih kenapa angka itu bisa muncul di tengah gemerlap dunia EDM, karena nilai ekonomi global untuk industri yang bergerak di bidang tersebut bisa mencapai angka 7,9 miliar Dollar (Dollar Amerika loh ya.. bukan Dollar Timor Leste)!!
Nah sementara, akumulasi jumlah tontonan konten apapun yang bertema EDM yang ada di youtube, pertaunnya mencapai angka 3,3 miliar views...! Banyak kan?!
Sebanyak itulah kira-kira gambaran dari jumlah kompensasi materil dan immateril yang harus ditanggung akibat daya tarik musik EDM.

Nah, ngomongin soal itu.. salah satu genre dari EDM adalah Eurodance. Jenis musik ini sempet booming di Indonesia taun 1990an, dimana artis-artis terutama artis bule (dari benua Eropa) rajin wara-wiri di layar TV untuk memainkan musik mereka yang didominasi suara sampler dan drum machine.
Musik yang lahir dan gede di wilayah Belgia, Belanda dan Jerman ini jadi sektor industri yang juga punya nilai komersial tinggi di masa itu. Sampe awal dekade 2000an, musik ini masih terus bertahan dengan regenerasi artis yang berjalan mulus meski nggak glowing.
Artis-artis macam Ace of Base, Aqua, sampe DJ Sammy, booming dan tenggelam untuk kemudian diganti sama suksesornya.
Dan.. satu nama dari musik Eurodance yang sampe sekarang masih belum mau digeser sama penggantinya adalah DR Bombay. EDM Producer asal Swedia yang pura-pura India dan punya nama asli Jonny Jakobsen ini, dulu sempet booming waktu sering mampir ke MTV dengan hitsnya "Calcutta (Taxi Taxi Taxi)" yang rilis taun 1998. Itu waktu kita (baca: aku, kamu dari mereka) masih berseragam, baik seragam putih abu, putih biru atau bahkan putih merah..!

Di taun 2019, setelah vakum selama 11 tahun, bapak nyentrik berusia 56 itu menelurkan.. eh, ngeluarin single baru berjudul "Stockholm to Bombay" yang masih kental Eurodance-nya.
Berikut ini videonya :


Gimana?
Merasa teringat sesuatu di masa lalu?
Bagikan Ke Orang Lain :

Kamu Pasti Suka Ini Juga!